Friday, October 17, 2014

QUESTIONING (bagian 1)

Tidak setiap orang berani bertanya, namun tidak setiap orang yang berani bertanya pun sebenarnya tahu kebermaknaan pertanyaannya. Terlepas dari berani atau tidak, bermakna atau tidak, keterampilan bertanya itu penting bagi seorang guru. Pertanyaan seperti apa yang sebenarnya harus diajukan seorang guru? Tentunya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mendorong terjadinya proses berpikir siswa.
Berdasarkan hasil kaji literatur yang dilakukan Schafersman (1991) salah satu tujuan utama dalam pembelajaran matematika adalah meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Melihat tujuan yang demikian, peran fasilitator siswa dalam belajar, dalam hal ini guru, merupakan salah satu faktor dalam pencapaian kemampuan ini. Sejalan dengan ini, perlu ditekankan adanya peningkatan peran dan kompetensi para guru dalam upaya mengoptimalkan pencapaian belajar siswa. Studi lain mengungkapkan bahwa memfasilitasi anak dalam berpikir tidak sekedar mengajarkan “what to think” tapi juga ”how to think” (Clement and Lochhead dalam Schafersman, 1991). Oleh karena itu, membantu para siswa berpikir baik individu maupun dalam kelompok merupakan tantangan sekaligus tanggungjawab yang diemban oleh setiap guru (Kline, 2008).
Seorang praktisi pendidikan, Wilcox (2008), mengemukan bahwa pengajuan pertanyaan yang tepat pada saat yang tepat dapat ‘memprovokasi’ siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan pahami. Wilson dalam tulisannya menyebutkan bahwa ia meyakini bahwa setiap siswa itu mengetahui banyak, initial understanding, akan tetapi mereka belum memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkannya. Sebagai fasilitator, tugas guru di sini adalah membantu siswa dengan mengajukan pertanyaan yang efektif tentang pemahaman siswa terhadap konsep matematika selama pembelajaran berlangsung. Di akhir tulisannya, Wilcox menyebutkan bahwa seorang guru perlu dibekali pemahaman yang cukup tentang materi, memahami miskonsepsi siswa yang dapat membawa siswa menuju konsep yang diharapkan sehingga dapat membantu guru dalam menentukan tindakan apa yang dapat membantu siswa belajar.
Dengan mengajukan pertanyaan yang efektif kepada siswa, guru tidak hanya akan memperoleh informasi faktual melalinkan dapat membantu siswa dalam beberapa hal; menghubungkan konsep, membuat kesimpulan, meningkatkan kesadaran, mendorong berpikir kreatif dan imajinatif, membantu proses berpikir kritis, dan umumnya membantu siswa dalam mengeksplorasi lebih dalam tentang pengetahuan, berpikir, dan pemahamannya (Wilson, 1997). Selanjutnya, Wilson menyajikan lima jenis pertanyaan sebagai berikut.
1.    Faktual
Jenis pertanyaan ini pada umumnya merupakan level terendah dari proses kognitif atau afektif. Selain itu, lebih menekankan pada perolehan jawaban yang jujur dan sederhana namun masuk akal berdasarkan fakta atau kesadaran yang nyata dengan jawaban yang diberikan pada umumnya “benar atau salah”.
2.    Konvergen
Jawaban atas jenis pertanyaan ini biasanya berada pada rentang yang sangat terbatas untuk diterima keakuratannya. Pertanyaannya berada pada level-level kognitif yang berbeda; pemahaman, aplikasi, analisis, atau yang laninnya dimana penjawab membuat kesimpulan atau dugaan berdasarkan kesadaran pribadi, berdasarkan informasi yang dimiliki atau yang telah disajikan.
3.    Divergen
Pertanyaan ini memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengeksplorasi dan menciptakan berbagai macam variasi alternatif jawaban. Kebenaran jawaban mungkin didasarkan pada proyeksi logis, kontekstual atau melalui pengetahuan dasar, dugaan, simpulan, intuisi maupun imajinasi. Pertanyaan-pertanyaan jenis ini menuntut siswa untuk melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi sebuah pengetahuan dasar kemudian memprediksi atau menghasilkan luaran yang berbeda.
Jawaban pada jenis pertanyaan ini umumnya jatuh ke dalam berbagai penerimaan dengan penerimaan kebenarannya bersifat subyektif berdasarkan kemungkinan. Seringkali inti dari pengajuan jenis pertanyaan ini untuk merangsang siswa berpikir kreatif dan imajinatif, menyelidiki hubungan sebab akibat, memprovokasi pemikiran yang mendalam atau mendorong investigasi yang lebih luas.
4.    Evaluatif
Jenis pertanyaan ini biasanya membutuhkan tingkat kognitif yang lebih tinggi atau melibatkan penilaian emosional. Dalam upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan evaluatif, siswa dapat menggabungkan beberapa proses berpikir logis dan/atau afektif, atau kerangka komparatif. Seringkali jawaban atas pertanyaan ini dianalisis pada berbagai tingkat dan dari perspektif yang berbeda sebelum sampai pada pencapaian informasi yang baru atau kesimpulan.
5.    Kombinasi
Pertanyaan ini merupakan campuran dari keempat jenis pertanyaan di atas.
Sebagaian guru berpendapat bahwa semakin banyak pertanyaan yang diajukan berarti semakin baik pula keterlibatan siswa dalam pembelajaran (Krishnan, 2009). Hal ini kurang sesuai dan meninmbulkan kesalahpahaman karena tidak semua pertanyaan yang diajukan guru dapat membuat siswa terlibat aktif. Kesalahpahaman yang sering muncul menurut Krishnan adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan open-ended hanya untuk siswa-siswa dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini dapat diatasi jika pertanyaan tersebut diajukan secara terstruktur dan sistematis serta menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai sehingga semua siswa akan mampu terdorong untuk berpikir.

Nah, bagaimana cara kita, termasuk penulis, mengembangkan keterampilan bertanya tersebut? Let see on the next post. :) 


Referensi
Kline, Kate. (2008). Learning to Think and Thinking to Learn. In Teaching Children Mathematics (page 144-151). National Council of Teachers of Mathematics (NCTM)

Krishnan,E.R. (2009). Teaching with HEART: Using questions as part of your  teaching strategy; Encourage students to interact in class. Bangkok Post Life. [Online]. Tersedia: http://www.bangkokpost.com/life/education/23896/usingquestionsas-part-of-your-teaching-strategy  [November 1, 2010]

Schafersman, S D. (1991). An Intoduction to Critical Thinking. [Online]. Tersedia: http://www.freeinquiry.com/critical-thinking.html  [November 1, 2010]

Wilcox, Virginia B.. (2008). Questioning zero and negative numbers. In Teaching Children Mathematics (page 202-206). National Council of Teachers of Mathematics (NCTM).

Wilson, L.E. (1997). Newer Views of Learning-Types of Questions. [Online]. Tersedia: http://www.uwsp.edu/education/lwilson/learning/quest2.htm [November 1, 2010]

0 comments: