Tidak setiap orang berani bertanya, namun tidak setiap orang yang berani bertanya pun sebenarnya tahu kebermaknaan pertanyaannya. Terlepas dari berani atau tidak, bermakna atau tidak, keterampilan bertanya itu penting bagi seorang guru. Pertanyaan seperti apa yang sebenarnya harus diajukan seorang guru? Tentunya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mendorong terjadinya proses berpikir siswa.
Berdasarkan
hasil kaji literatur yang dilakukan Schafersman (1991) salah satu tujuan utama
dalam pembelajaran matematika adalah meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
Melihat tujuan yang demikian, peran fasilitator siswa dalam belajar, dalam hal
ini guru, merupakan salah satu faktor dalam pencapaian kemampuan ini. Sejalan
dengan ini, perlu ditekankan adanya peningkatan peran dan kompetensi para guru
dalam upaya mengoptimalkan pencapaian belajar siswa. Studi lain mengungkapkan
bahwa memfasilitasi anak dalam berpikir tidak sekedar mengajarkan “what to think” tapi juga ”how to think” (Clement and Lochhead
dalam Schafersman, 1991). Oleh karena itu, membantu para siswa berpikir baik
individu maupun dalam kelompok merupakan tantangan sekaligus tanggungjawab yang
diemban oleh setiap guru (Kline, 2008).
Seorang praktisi
pendidikan, Wilcox (2008), mengemukan bahwa pengajuan pertanyaan yang tepat
pada saat yang tepat dapat ‘memprovokasi’ siswa untuk menunjukkan apa yang
mereka ketahui dan pahami. Wilson dalam tulisannya menyebutkan bahwa ia
meyakini bahwa setiap siswa itu mengetahui banyak, initial understanding, akan tetapi mereka belum memiliki cukup
keberanian untuk mengungkapkannya. Sebagai fasilitator, tugas guru di sini
adalah membantu siswa dengan mengajukan pertanyaan yang efektif tentang
pemahaman siswa terhadap konsep matematika selama pembelajaran berlangsung. Di
akhir tulisannya, Wilcox menyebutkan bahwa seorang guru perlu dibekali
pemahaman yang cukup tentang materi, memahami miskonsepsi siswa yang dapat
membawa siswa menuju konsep yang diharapkan sehingga dapat membantu guru dalam
menentukan tindakan apa yang dapat membantu siswa belajar.
Dengan
mengajukan pertanyaan yang efektif kepada siswa, guru tidak hanya akan
memperoleh informasi faktual melalinkan dapat membantu siswa dalam beberapa
hal; menghubungkan konsep, membuat kesimpulan, meningkatkan kesadaran,
mendorong berpikir kreatif dan imajinatif, membantu proses berpikir kritis, dan
umumnya membantu siswa dalam mengeksplorasi lebih dalam tentang pengetahuan,
berpikir, dan pemahamannya (Wilson, 1997). Selanjutnya, Wilson menyajikan lima
jenis pertanyaan sebagai berikut.
1. Faktual
Jenis pertanyaan ini pada umumnya merupakan
level terendah dari proses kognitif atau afektif. Selain itu, lebih menekankan
pada perolehan jawaban yang jujur dan sederhana namun masuk akal berdasarkan
fakta atau kesadaran yang nyata dengan jawaban yang diberikan pada umumnya
“benar atau salah”.
2. Konvergen
Jawaban atas jenis pertanyaan ini biasanya
berada pada rentang yang sangat terbatas untuk diterima keakuratannya. Pertanyaannya
berada pada level-level kognitif yang berbeda; pemahaman, aplikasi, analisis, atau
yang laninnya dimana penjawab membuat kesimpulan atau dugaan berdasarkan
kesadaran pribadi, berdasarkan informasi yang dimiliki atau yang telah
disajikan.
3. Divergen
Pertanyaan ini memberikan kebebasan bagi
siswa untuk mengeksplorasi dan menciptakan berbagai macam variasi alternatif
jawaban. Kebenaran jawaban mungkin didasarkan pada proyeksi logis, kontekstual
atau melalui pengetahuan dasar, dugaan, simpulan, intuisi maupun imajinasi.
Pertanyaan-pertanyaan jenis ini menuntut siswa untuk melakukan analisis,
sintesis, dan evaluasi sebuah pengetahuan dasar kemudian memprediksi atau
menghasilkan luaran yang berbeda.
Jawaban pada jenis pertanyaan ini umumnya
jatuh ke dalam berbagai penerimaan dengan penerimaan kebenarannya bersifat
subyektif berdasarkan kemungkinan. Seringkali inti dari pengajuan jenis
pertanyaan ini untuk merangsang siswa berpikir kreatif dan imajinatif,
menyelidiki hubungan sebab akibat, memprovokasi pemikiran yang mendalam atau
mendorong investigasi yang lebih luas.
4. Evaluatif
Jenis pertanyaan ini biasanya membutuhkan
tingkat kognitif yang lebih tinggi atau melibatkan penilaian emosional. Dalam
upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan evaluatif, siswa dapat menggabungkan
beberapa proses berpikir logis dan/atau afektif, atau kerangka komparatif.
Seringkali jawaban atas pertanyaan ini dianalisis pada berbagai tingkat dan
dari perspektif yang berbeda sebelum sampai pada pencapaian informasi yang baru
atau kesimpulan.
5. Kombinasi
Pertanyaan ini merupakan campuran dari
keempat jenis pertanyaan di atas.
Sebagaian guru
berpendapat bahwa semakin banyak pertanyaan yang diajukan berarti semakin baik
pula keterlibatan siswa dalam pembelajaran (Krishnan, 2009). Hal ini kurang
sesuai dan meninmbulkan kesalahpahaman karena tidak semua pertanyaan yang
diajukan guru dapat membuat siswa terlibat aktif. Kesalahpahaman yang sering
muncul menurut Krishnan adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan open-ended hanya untuk siswa-siswa dengan kemampuan berpikir
tingkat tinggi. Hal ini dapat diatasi jika pertanyaan tersebut diajukan secara
terstruktur dan sistematis serta menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai
sehingga semua siswa akan mampu terdorong untuk berpikir.
0 comments:
Post a Comment