Tuesday, October 28, 2014

Untuk apa belajar IAD?

Suatu ketika, seorang mahasiswa bertanya, "apa sebenarnya 'pesan' yang ingin disampaikan melalui mata kuliah IAD (Ilmu Alamiah Dasar)?" Lalu, "manfaatnya apa bagi kami calon guru pejuang abad 21?" Sejenak pertanyaan itu benar-benar menggelitik kami. Kami pun bertanya pada diri kami sendiri bahkan melibatkan beberapa rekan sejawat. "Apa yang kami harapkan mahasiswa ketahui kelak setelah belajar IAD? Paham materi saja tidak cukup tentunya, tapi apa?" pertanyaan ini berulang kali kami saling tanyakan pada diri kami masing-masing. Hingga suatu ketika, sebuah diskusi dengan rekan sejawat menghasilkan sebuah gagasan berikut.

       Landasan utama diadakannya mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar (IAD) adalah QS ar-Rum ayat 41 berikut.


“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

       Hal ini sejalan dengan paparan dalam buku The World in 2050 (serta kajian lain terkait dengan seperti apa dunia pada tahun 2050) bahwa telah tampak gejala-gejala alam diantaranya pemanasan global; perubahan iklim; mencairnya es di kutub; sumber daya alam yang semakin terbatas; dan gejala lain yang jika dicermati mengerucut pada tanda-tanda akan datangnya kiamat (bagi umat muslim). Oleh karena itu, berbagai cara telah ditempuh dalam menanggulangi gejala-gejala tersebut seperti go green (penghijauan, hemat air, hemat listrik, hemat bahan bakar dll), pencarian energi (SDA) alternatif, pengurangan penggunaan mobil hingga perbaikan kualitas kendaraan dengan uji emisi.

Lalu apa bentuk partisipasi STKIP Al Hikmah dalam mendukung program tersebut? 

Mahasiswa STKIP Al Hikmah sebagai calon guru abad 21 perlu dibekali pengetahuan dan pengalaman terkait akhlaq terhadap lingkungan melalui mata kuliah IAD. Pengembangan ide ini dilakukan dengan memberikan penugasan akhir semester untuk membuat sebuah gagasan tentang konsep sekolah bersih yang merupakan bagian kecil dari program sekolah adiwiyata yang sedang digalakkan beberapa saat ini. Gagasan sekolah bersih ini dikerucutkan pada hal dasar yaitu tentang pengelolaan sampah. Untuk itu, topik-topik tengah semester akhir akan difokuskan pada konsepsi ekologi, SDA dan lingkungan dengan menstimulasi mahasiswa agar kreatif serta hemat dalam segala hal, misalnya penggunaan kertas, energi, air, dan lain sebagainya.

Hal yang tidak kalah penting adalah pengembangan keterampilan psikomotor mahasiswa terkait dengan mata kuliah IAD yaitu keterampilan dalam mencari hubungan konsep dalam IAD dengan ayat-ayat al Qur’an. Jika seseorang telah meyakini kebenaran ayat-ayat Al-Qur'an yang membahas topik-topik sains, maka seseorang tersebut akan lebih mudah mempercayai kebenaran Al-Qur'an daripada sekedar mengetahui topik-topik tersebut. Implikasinya, seseorang tersebut akan senantiasa mematuhi perintah-perintah Allah SWT dalam ayat-ayat lainnya.

Wednesday, October 22, 2014

Memanfaatkan Internet dalam Menfasilitasi Guru Belajar

Tulisan ini penulis ambil dari sebagian pengalaman penulis selama menjadi volunteers di salah satu sekolah laboratorium yang dikelolan sebuah perguruan tinggi. Bahkan pengalaman ini telah penulis sajikan dalam bentuk makalah yang telah diseminarkan di Seminar Nasional Pendidikan Matematika yang diselenggarakan FKIP UNY tahun 2009.

     Menjadi guru bukan berarti seseorang itu telah menguasai banyak hal. Pernyataan ini sempat terlontar dari salah seorang teman guru di salah satu sekolah laboratorium di Surabaya. Sekitar tahun 2009, sekolah tersebut sedang merintis terbentuknya kelas RSBI (Rinstisan Sekolah Bertaraf Internasional) khususnya untuk Kelas 2. Berbagai upaya dilakukan salah satunya dengan menyiapkan guru kelas yang akan mendampingi kelas tersebut.
     Tantangan bagi guru kelas RSBI tersebut salah satunya adalah menguasai kemampuan bahasa Inggris disamping kemampuan menguasai materi ajar. Namun, tuntutan ini dirasakan cukup menantang bagi para guru mengingat terbatasnya pengalaman beliau dalam membina kelas internasional. Hal ini memberikan tantangan pula bagi penulis dan konsultan pendidikan matematika pada saat itu yaitu Ibu Sitti Maesuri Patahuddin. Sekolah telah menyediakan fasilitas internet namun guru belum dibekali dengan pengalaman dalam memanfaatkan internet tersebut.
       Internet, seperti yang telah penulis sampaikan pada posting sebelumnya, merupakan sumber belajar yang tak terbatas. Dengan internet pula, penulis dengan tim berusaha merancang berbagai aktivitas yang memungkinkan adanya interaksi guru dengan internet. Tentunya aktivitas ini tidak mengurangi konten dari matematika itu sendiri, oleh karena itu, sumber belajar yang sering dieksplorasi adalah website-website pembelajaran matematika berbahasa Inggris.
       Salah satu bentuk pemanfaatan internet dalam aktivitas dengan guru salah satunya adalah crossword puzzle yang penulis kembangkan dengan menggunakan fasilitas yang disediakan oleh http://www.puzzle-maker.com/. Website ini menyediakan dua fasilitas yaitu word search maker dan crossword puzzle. Dengan meng-input kata-kata yang ingin ditemukan kemudian menentukan banyaknya kolom dan baris yang diperlukan, maka secara otomatis website  akan menghasilkan word search puzzle. Sedangkan crossworld puzzle maker, selain menggunakan kata-kata yang dicari, pengguna perlu memasukkan petunjuk untuk masing-masing kata. Berikut contoh lembar crossworld puzzle.

Pemanfaatan internet lain ... (to be continued)

Friday, October 17, 2014

QUESTIONING (bagian 1)

Tidak setiap orang berani bertanya, namun tidak setiap orang yang berani bertanya pun sebenarnya tahu kebermaknaan pertanyaannya. Terlepas dari berani atau tidak, bermakna atau tidak, keterampilan bertanya itu penting bagi seorang guru. Pertanyaan seperti apa yang sebenarnya harus diajukan seorang guru? Tentunya pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang mendorong terjadinya proses berpikir siswa.
Berdasarkan hasil kaji literatur yang dilakukan Schafersman (1991) salah satu tujuan utama dalam pembelajaran matematika adalah meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Melihat tujuan yang demikian, peran fasilitator siswa dalam belajar, dalam hal ini guru, merupakan salah satu faktor dalam pencapaian kemampuan ini. Sejalan dengan ini, perlu ditekankan adanya peningkatan peran dan kompetensi para guru dalam upaya mengoptimalkan pencapaian belajar siswa. Studi lain mengungkapkan bahwa memfasilitasi anak dalam berpikir tidak sekedar mengajarkan “what to think” tapi juga ”how to think” (Clement and Lochhead dalam Schafersman, 1991). Oleh karena itu, membantu para siswa berpikir baik individu maupun dalam kelompok merupakan tantangan sekaligus tanggungjawab yang diemban oleh setiap guru (Kline, 2008).
Seorang praktisi pendidikan, Wilcox (2008), mengemukan bahwa pengajuan pertanyaan yang tepat pada saat yang tepat dapat ‘memprovokasi’ siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan pahami. Wilson dalam tulisannya menyebutkan bahwa ia meyakini bahwa setiap siswa itu mengetahui banyak, initial understanding, akan tetapi mereka belum memiliki cukup keberanian untuk mengungkapkannya. Sebagai fasilitator, tugas guru di sini adalah membantu siswa dengan mengajukan pertanyaan yang efektif tentang pemahaman siswa terhadap konsep matematika selama pembelajaran berlangsung. Di akhir tulisannya, Wilcox menyebutkan bahwa seorang guru perlu dibekali pemahaman yang cukup tentang materi, memahami miskonsepsi siswa yang dapat membawa siswa menuju konsep yang diharapkan sehingga dapat membantu guru dalam menentukan tindakan apa yang dapat membantu siswa belajar.
Dengan mengajukan pertanyaan yang efektif kepada siswa, guru tidak hanya akan memperoleh informasi faktual melalinkan dapat membantu siswa dalam beberapa hal; menghubungkan konsep, membuat kesimpulan, meningkatkan kesadaran, mendorong berpikir kreatif dan imajinatif, membantu proses berpikir kritis, dan umumnya membantu siswa dalam mengeksplorasi lebih dalam tentang pengetahuan, berpikir, dan pemahamannya (Wilson, 1997). Selanjutnya, Wilson menyajikan lima jenis pertanyaan sebagai berikut.
1.    Faktual
Jenis pertanyaan ini pada umumnya merupakan level terendah dari proses kognitif atau afektif. Selain itu, lebih menekankan pada perolehan jawaban yang jujur dan sederhana namun masuk akal berdasarkan fakta atau kesadaran yang nyata dengan jawaban yang diberikan pada umumnya “benar atau salah”.
2.    Konvergen
Jawaban atas jenis pertanyaan ini biasanya berada pada rentang yang sangat terbatas untuk diterima keakuratannya. Pertanyaannya berada pada level-level kognitif yang berbeda; pemahaman, aplikasi, analisis, atau yang laninnya dimana penjawab membuat kesimpulan atau dugaan berdasarkan kesadaran pribadi, berdasarkan informasi yang dimiliki atau yang telah disajikan.
3.    Divergen
Pertanyaan ini memberikan kebebasan bagi siswa untuk mengeksplorasi dan menciptakan berbagai macam variasi alternatif jawaban. Kebenaran jawaban mungkin didasarkan pada proyeksi logis, kontekstual atau melalui pengetahuan dasar, dugaan, simpulan, intuisi maupun imajinasi. Pertanyaan-pertanyaan jenis ini menuntut siswa untuk melakukan analisis, sintesis, dan evaluasi sebuah pengetahuan dasar kemudian memprediksi atau menghasilkan luaran yang berbeda.
Jawaban pada jenis pertanyaan ini umumnya jatuh ke dalam berbagai penerimaan dengan penerimaan kebenarannya bersifat subyektif berdasarkan kemungkinan. Seringkali inti dari pengajuan jenis pertanyaan ini untuk merangsang siswa berpikir kreatif dan imajinatif, menyelidiki hubungan sebab akibat, memprovokasi pemikiran yang mendalam atau mendorong investigasi yang lebih luas.
4.    Evaluatif
Jenis pertanyaan ini biasanya membutuhkan tingkat kognitif yang lebih tinggi atau melibatkan penilaian emosional. Dalam upaya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan evaluatif, siswa dapat menggabungkan beberapa proses berpikir logis dan/atau afektif, atau kerangka komparatif. Seringkali jawaban atas pertanyaan ini dianalisis pada berbagai tingkat dan dari perspektif yang berbeda sebelum sampai pada pencapaian informasi yang baru atau kesimpulan.
5.    Kombinasi
Pertanyaan ini merupakan campuran dari keempat jenis pertanyaan di atas.
Sebagaian guru berpendapat bahwa semakin banyak pertanyaan yang diajukan berarti semakin baik pula keterlibatan siswa dalam pembelajaran (Krishnan, 2009). Hal ini kurang sesuai dan meninmbulkan kesalahpahaman karena tidak semua pertanyaan yang diajukan guru dapat membuat siswa terlibat aktif. Kesalahpahaman yang sering muncul menurut Krishnan adalah bahwa pertanyaan-pertanyaan open-ended hanya untuk siswa-siswa dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini dapat diatasi jika pertanyaan tersebut diajukan secara terstruktur dan sistematis serta menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai sehingga semua siswa akan mampu terdorong untuk berpikir.

Nah, bagaimana cara kita, termasuk penulis, mengembangkan keterampilan bertanya tersebut? Let see on the next post. :) 


Referensi
Kline, Kate. (2008). Learning to Think and Thinking to Learn. In Teaching Children Mathematics (page 144-151). National Council of Teachers of Mathematics (NCTM)

Krishnan,E.R. (2009). Teaching with HEART: Using questions as part of your  teaching strategy; Encourage students to interact in class. Bangkok Post Life. [Online]. Tersedia: http://www.bangkokpost.com/life/education/23896/usingquestionsas-part-of-your-teaching-strategy  [November 1, 2010]

Schafersman, S D. (1991). An Intoduction to Critical Thinking. [Online]. Tersedia: http://www.freeinquiry.com/critical-thinking.html  [November 1, 2010]

Wilcox, Virginia B.. (2008). Questioning zero and negative numbers. In Teaching Children Mathematics (page 202-206). National Council of Teachers of Mathematics (NCTM).

Wilson, L.E. (1997). Newer Views of Learning-Types of Questions. [Online]. Tersedia: http://www.uwsp.edu/education/lwilson/learning/quest2.htm [November 1, 2010]

Internet as Unlimited Learning Resources (bagian 2)

       Posting sebelumnya, Internet as Unlimited Learning Resources (bagian 1), telah penulis sertakan sebuah website pembelajaran matematika berbasis game. Berikut penulis sajikan beberapa rujukan lain yang dapat dimanfaatkan anak orang tua maupun guru dalam memfasilitasi siswa/anak belajar.

Melalui website ini guru dapat membuat crossword puzzle (teka teki) maupun word search puzzle.

Website ini menyediakan berbagai kemudahan untuk belajar matematika, ada ulasan materi secara singkat namun menarik, ada permainan dan LKS sebagai latihan dan masih banyak lagi. Beberapa topik matematika  yang disediakan diantaranya numbers (bilangan), geometry (geometri), algebra (aljabar), measurement (pengukuran), dan beberapa topik lain.

Website ini dirancang untuk belajar matematika mandiri khususnya di rumah (homeschooling). Akan tetapi website ini juga cocok bagi pembimbing baik guru maupun orang tua karena menyediakan free math worksheet sehingga kita bisa membuat LKS mandiri.

Website ini menyediakan activities atau kegiatan interaktif yang melibatkan pengguna khususnya siswa untuk bermain sekaligus belajar. Aktivitas yang ditawarkan diklasifikasikan dalam beberapa topik. Selain activities, website ini juga menyediakan lesson atau contoh pembelajaran materi tertentu misalnya place value (nilai tempat), addition (penjumlahan) dan beberapa topik lain.

Website ini menyediakan berbagai LKS yang dapat diunduh secara gratis oleh guru sesuai dengan topik dan kelasnya.

Website ini menyediakan berbagai latihan interaktif yang disesuaikan dengan topik dan kelasnya. Dalam latihan ini disertakan explanation atau penjelasan tambahan apabila siswa memasukkan jawaban yang salah.

Seperti pada beberapa website yang interaktif, website ini juga menyajikan berbagai kegiatan interaktif siswa yang dikemas dengan menarik, khususnya tentang time atau waktu. Topik yang lain juga tersedia dalam website ini, sepertinya number skills, data & probability, dan beberapa topik yang lain.

Website di atas  di atas menyediakan aplikasi bagi guru untuk membuat LKS tentang waktu yang dapat disesuaikan dengan keperluan dengan memilih beberapa pilihan yang tersedia.


-to be continued-