Menulis tentunya tidak sekedar menghasilkan tulisan untuk
sekedar dibaca melainkan menghasilkan tulisan yang mampu menginspirasi pembaca
belajar dari apa yang kita tulis. Demikian pula, melalui tulisan ini penulis
berharap ada hal yang dapat menginspirasi pembaca.
Pernahkah
teman-teman pembaca merasakan apa yang penulis sebut
“kram otak”; jantung tiba-tiba berdetak dengan kencang, aliran darah
seakan berhenti. Kondisi
inilah yang pernah dialami Ustad Zainal Abidin, atau lebih dikenal sebagai
Ustad Zain, di salah satu kelas matematikanya. Menjadi seorang guru matematika
yang telah memiliki pengalaman mengajar lebih dari lima tahun di SMP Al Hikmah
Surabaya tentunya menjadikan beliau cukup mengenal berbagai karakteristik kelas
dan penanganannya. Namun pengalaman mengajar di Kelas VII-A benar-benar
meninggalkan kesan yang berbeda bagi beliau, bahkan dapat dikatakan booster terhadap
inovasi-inovasi pembelajaran beliau selanjutnya.
Seperti
kelas putra yang lain, Kelas VII-A merupakan kelas dengan kapasitas 24 siswa
berkemampuan heterogen. Namun, berdasarkan pengalaman beliau, mengajar Kelas
VII-A berarti harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan “ajaib” yang meluncur dari anak-anak “ajaib”. Karena salah
satu pertanyaan ajaib itulah, Ustad Zain mengalami apa yang diawal penulis
sebut sebagai kram otak.
“Ustad,
kenapa himpunan kosong selalu menjadi himpunan bagian? Apa nol itu juga
himpunan kosong? Apa bedanya?” tanya Hakim suatu ketika dalam sebuah diskusi
kelas tentang anggota dari suatu himpunan bagian. Seperti biasanya, Ustad Zain
berusaha secepat mungkin memanggil kembali ingatannya, menyusun kata sehingga
diperoleh jawaban yang sesuai. Namun, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut beliau kecuali seutas senyum
untuk menutupi kebingunan. “Sabar, itu akan saya jelaskan setelah penjelasan
saya tuntas” elak beliau mengakhiri kebuntuan.
“Kalau
himpunan terdiri 2 anggota, banyak anggota
himpunan berapa tadi?” tanya Ustad Zain mencoba menanggapi pertanyaan Hakim.
“Empat”, jawab anak-anak serentak.
“Kalau anggotanya tiga?”
“Delapan”, sambung mereka.
“Nah, kalau empat bisa ditulis dua pangkat dua. Kalau delapan
bisa ditulis dua pangkat tiga. Kalau begitu jika himpunan anggotanya n,
maka banyak himpunan bagiannya dua pangkat n. Nah, sekarang kalian tahu,
himpunan kosong selalu menjadi himpunan bagian. “
“Untuk
melengkapi supaya menjadi dua pangkat n, ya Ustad?” kata Ibnu menanggapi penjelasan Uztad Zain . “Betul, sip”,
puji beliau.
“Kok
bisa ya?” Hakim menggerutu lirih dan kegusaran tersebut dengan jelas tertangkap
oleh Ustad Zain. Raut ketidakpuasan itulah
yang selama tiga hari menjadi tanya bagi beliau. Bukan main pusingnya beliau
berusaha mencari jawaban atas pertanyaan ajaib si Hakim. Hingga suatu ketika
terjadi dialog singkat antara Ustad Zain dan Hakim di sela-sela waktu
istirahat. Dengan tiba-tiba Hakim membuka pintu belakang Kelas VII-A dimana
Ustad Zain sedang menikmati lembaran koreksi tugas siswa di salah satu sudut
ruangan.
“Lho,
kok nggak ada orang?” celetuk Hakim.
“Emang saya bukan orang?” Kata Ustad Zain sambil berjalan ke arah
pintu dan Hakim pun hanya tersenyum lebar seperti biasa.
“Hmm, maksud saya teman-teman Ustad.” Jawab Hakim sekenanya.
“Kamu nggak salah masuk kelas?” lanjut beliau menggoda. Dengan lirih
Hakim menjawab, “ini Kelas VII-A kan?” Beliau menjawab dengan senyuman
lalu bergeser ke luar kelas, “nah, kalau saya di sini, baru nggak ada orang di
kelas.” Tiba-tiba Hakim tertawa lepas dan semakin keras hingga akhirnya mereda
dengan sebuah dialog yang selalu tersimpan dalam memori jangka panjang Ustad
Zain.
“Aku
tahu Ustad.”
“Lho,
tahu apa?” tanya beliau penasaran.
"Saya
tahu kenapa himpunan kosong selalu menjadi himpunan bagian. Kelas ini kan
kosong, tapi kan masih kelas 7A juga. Hehehe.” Untuk kedua kalinya, beliau
mengalami ‘kram otak’, persis ketika Hakim melontarkan pertanyaan tiga hari
sebelumnya, hanya saja kali ini beliau dapat tersenyum lepas karena Hakim dapat
menemukan sendiri jawaban terhadap pertanyaan yang telah dia ajukan.
Seperti
dikutip dari salah satu tulisan beliau dalam blog pribadinya (http://matematikasemesta.blogspot.com/2014/09/himpunan-kosong.html),
dialog singkat dengan Hakim tersebut benar-benar telah menginspirasi beliau
dalam menjelaskan mengapa himpunan kosong selalu menjadi anggota dari himpunan
bagian setiap sebarang himpunan di kelas-kelas lain. Bahkan, ilustrasi dialog
dengan Hakim tersebut menjadi salah satu motivasi bagi beliau untuk mempelajari
lebih jauh tentang teori himpunan
serta berbagai aplikasinya
dalam bidang teknologi,
yang pada akhirnya menciptakan suasana pembelajaran matematika yang
menyenangkan bagi siswa.

2 comments:
Luar biasa bu Je
Luar biasa bu Je
Post a Comment