Monday, October 13, 2014

Muridku : Inspirasiku


Menulis tentunya tidak sekedar menghasilkan tulisan untuk sekedar dibaca melainkan menghasilkan tulisan yang mampu menginspirasi pembaca belajar dari apa yang kita tulis. Demikian pula, melalui tulisan ini penulis berharap ada hal yang dapat menginspirasi pembaca.

 Pernahkah teman-teman pembaca merasakan apa yang penulis sebut “kram otak”; jantung tiba-tiba berdetak dengan kencang, aliran darah seakan berhenti. Kondisi inilah yang pernah dialami Ustad Zainal Abidin, atau lebih dikenal sebagai Ustad Zain, di salah satu kelas matematikanya. Menjadi seorang guru matematika yang telah memiliki pengalaman mengajar lebih dari lima tahun di SMP Al Hikmah Surabaya tentunya menjadikan beliau cukup mengenal berbagai karakteristik kelas dan penanganannya. Namun pengalaman mengajar di Kelas VII-A benar-benar meninggalkan kesan yang berbeda bagi beliau, bahkan dapat dikatakan booster terhadap inovasi-inovasi pembelajaran beliau selanjutnya.
Seperti kelas putra yang lain, Kelas VII-A merupakan kelas dengan kapasitas 24 siswa berkemampuan heterogen. Namun, berdasarkan pengalaman beliau, mengajar Kelas VII-A berarti harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan “ajaib” yang meluncur dari anak-anak “ajaib”. Karena salah satu pertanyaan ajaib itulah, Ustad Zain mengalami apa yang diawal penulis sebut sebagai kram otak.

 “Ustad, kenapa himpunan kosong selalu menjadi himpunan bagian? Apa nol itu juga himpunan kosong? Apa bedanya?” tanya Hakim suatu ketika dalam sebuah diskusi kelas tentang anggota dari suatu himpunan bagian. Seperti biasanya, Ustad Zain berusaha secepat mungkin memanggil kembali ingatannya, menyusun kata sehingga diperoleh jawaban yang sesuai. Namun, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut beliau kecuali seutas senyum untuk menutupi kebingunan. “Sabar, itu akan saya jelaskan setelah penjelasan saya tuntas” elak beliau mengakhiri kebuntuan.
“Kalau himpunan terdiri 2 anggota, banyak anggota himpunan berapa tadi?” tanya Ustad Zain mencoba menanggapi pertanyaan Hakim.
Empat”, jawab anak-anak serentak.
“Kalau anggotanya tiga?”
“Delapan”, sambung mereka.
“Nah, kalau empat bisa ditulis dua pangkat dua. Kalau delapan bisa ditulis dua pangkat tiga. Kalau begitu jika himpunan anggotanya n, maka banyak himpunan bagiannya dua pangkat n. Nah, sekarang kalian tahu, himpunan kosong selalu menjadi himpunan bagian. “
“Untuk melengkapi supaya menjadi dua pangkat n, ya Ustad?” kata Ibnu menanggapi penjelasan Uztad Zain . “Betul, sip”, puji beliau.
“Kok bisa ya?” Hakim menggerutu lirih dan kegusaran tersebut dengan jelas tertangkap oleh Ustad Zain. Raut ketidakpuasan itulah yang selama tiga hari menjadi tanya bagi beliau. Bukan main pusingnya beliau berusaha mencari jawaban atas pertanyaan ajaib si Hakim. Hingga suatu ketika terjadi dialog singkat antara Ustad Zain dan Hakim di sela-sela waktu istirahat. Dengan tiba-tiba Hakim membuka pintu belakang Kelas VII-A dimana Ustad Zain sedang menikmati lembaran koreksi tugas siswa di salah satu sudut ruangan.
“Lho, kok nggak ada orang?” celetuk Hakim.
“Emang saya bukan orang?” Kata Ustad Zain sambil berjalan ke arah pintu dan Hakim pun hanya tersenyum lebar seperti biasa.
“Hmm, maksud saya teman-teman Ustad.” Jawab Hakim sekenanya.
“Kamu nggak salah masuk kelas?” lanjut beliau menggoda. Dengan lirih Hakim menjawab, “ini Kelas VII-A kan?”  Beliau menjawab dengan senyuman lalu bergeser ke luar kelas, “nah, kalau saya di sini, baru nggak ada orang di kelas.” Tiba-tiba Hakim tertawa lepas dan semakin keras hingga akhirnya mereda dengan sebuah dialog yang selalu tersimpan dalam memori jangka panjang Ustad Zain.
“Aku tahu Ustad.”
“Lho, tahu apa?” tanya beliau penasaran.
"Saya tahu kenapa himpunan kosong selalu menjadi himpunan bagian. Kelas ini kan kosong, tapi kan masih kelas 7A juga. Hehehe.” Untuk kedua kalinya, beliau mengalami ‘kram otak’, persis ketika Hakim melontarkan pertanyaan tiga hari sebelumnya, hanya saja kali ini beliau dapat tersenyum lepas karena Hakim dapat menemukan sendiri jawaban terhadap pertanyaan yang telah dia ajukan. 
Seperti dikutip dari salah satu tulisan beliau dalam blog pribadinya (http://matematikasemesta.blogspot.com/2014/09/himpunan-kosong.html), dialog singkat dengan Hakim tersebut benar-benar telah menginspirasi beliau dalam menjelaskan mengapa himpunan kosong selalu menjadi anggota dari himpunan bagian setiap sebarang himpunan di kelas-kelas lain. Bahkan, ilustrasi dialog dengan Hakim tersebut menjadi salah satu motivasi bagi beliau untuk mempelajari lebih jauh tentang teori himpunan serta berbagai aplikasinya dalam bidang teknologi, yang pada akhirnya menciptakan suasana pembelajaran matematika yang menyenangkan bagi siswa.